Pengertian Wakaf

HUKUM ISLAM TENTANG WAKAF

Ketentuan-Ketentuan Wakaf

1. Pengertian dan Hukum Wakaf

Ditinjau dari segi bahasa wakaf berarti menahan. Sedangkan menurut istilah syara’, ialah menahan sesuatu benda yang kekal zatnya, untuk diambil manfaatnya untuk kebaikan dan kemajuan Islam. Menahan suatu benda yang kekal zatnya, artinya tidak dijual dan tidak diberikan serta tidak pula diwariskan, tetapi hanya disedekahkan untuk diambil manfaatnya saja.

Ada beberapa pengertian tentang wakaf antara lain:

Pengertian wakaf menurut mazhab syafi’i dan hambali adalah seseorang menahan hartanya untuk bisa dimanfaatkan di segala bidang kemaslahatan dengan tetap melanggengkan harta tersebut sebagai taqarrub kepada Allah ta’alaa

Pengertian wakaf menurut mazhab hanafi adalah menahan harta-benda sehingga menjadi hukum milik Allah ta’alaa, maka seseorang yang mewakafkan sesuatu berarti ia melepaskan kepemilikan harta tersebut dan memberikannya kepada Allah untuk bisa memberikan manfaatnya kepada manusia secara tetap dan kontinyu, tidak boleh dijual, dihibahkan, ataupun diwariskan.

Pengertian wakaf menurut imam Abu Hanafi adalah menahan harta-benda atas kepemilikan orang yang berwakaf dan bershadaqah dari hasilnya atau menyalurkan manfaat dari harta tersebut kepada orang-orang yang dicintainya. Berdasarkan definisi dari Abu Hanifah ini, maka harta tersebut ada dalam pengawasan orang yang berwakaf (wakif) selama ia masih hidup, dan bisa diwariskan kepada ahli warisnya jika ia sudah meninggal baik untuk dijual ayau dihibahkan. Definisi ini berbeda dengan definisi yang dikeluarkan oleh Abu Yusuf dan Muhammad, sahabat Imam Abu Hanifah itu sendiri

Pengertian wakaf menurut mazhab maliki adalah memberikan sesuatu hasil manfaat dari harta, dimana harta pokoknya tetap/lestari atas kepemilikan pemberi manfaat tersebut walaupun sesaat

Pengertian wakaf menurut peraturan pemerintah no. 28 tahun 1977 adalah perbuatan hukum seseorang atau badan hukum yang memisahkan sebagian harta kekayaannya yang berupa tanah milik dan melembagakannya untuk selama-lamanya. Bagi kepentingan peribadatan atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran agama Islam.

Dari definisi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa wakaf itu termasuk salah satu diantara macam pemberian, akan tetapi hanya boleh diambil manfaatnya, dan bendanya harus tetap utuh. Oleh karena itu, harta yang layak untuk diwakafkan adalah harta yang tidak habis dipakai dan umumnya tidak dapat dipindahkan, mislanya tanah, bangunan dan sejenisnya. Utamanya untuk kepentingan umum, misalnya untuk masjid, mushala, pondok pesantren, panti asuhan, jalan umum, dan sebagainya.

Hukum wakaf sama dengan amal jariyah. Sesuai dengan jenis amalnya maka berwakaf bukan sekedar berderma (sedekah) biasa, tetapi lebih besar pahala dan manfaatnya terhadap orang yang berwakaf. Pahala yang diterima mengalir terus menerus selama barang atau benda yang diwakafkan itu masih berguna dan bermanfaat. Hukum wakaf adalah sunah. Ditegaskan dalam hadits:

اِذَا مَاتَ ابْنَ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْ عِلْمٍ يَنْتَفَعُ بِهِ اَوْ وَلَدِ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ (رواه مسلم)

Artinya: “Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga (macam), yaitu sedekah jariyah (yang mengalir terus), ilmu yang dimanfaatkan, atu anak shaleh yang mendoakannya.” (HR Muslim)

Harta yang diwakafkan tidak boleh dijual, dihibahkan atau diwariskan. Akan tetapi, harta wakaf tersebut harus secara terus menerus dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umum sebagaimana maksud orang yang mewakafkan. Hadits Nabi yang artinya: “Sesungguhnya Umar telah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar. Umar bertanya kepada Rasulullah SAW; Wahai Rasulullah apakah perintahmu kepadaku sehubungan dengan tanah tersebut? Beliau menjawab: Jika engkau suka tahanlah tanah itu dan sedekahkan manfaatnya! Maka dengan petunjuk beliau itu, Umar menyedekahkan tanahnya dengan perjanjian tidak akan dijual tanahnya, tidak dihibahkan dan tidak pula diwariskan.” (HR Bukhari dan Muslim)

2. Syarat dan Rukun Wakaf

a. Syarat Wakaf

Syarat-syarat harta yang diwakafkan sebagai berikut:

1) Diwakafkan untuk selama-lamanya, tidak terbatas waktu tertentu (disebut takbid).

2) Tunai tanpa menggantungkan pada suatu peristiwa di masa yang akan datang. Misalnya, “Saya wakafkan bila dapat keuntungan yang lebih besar dari usaha yang akan datang”. Hal ini disebut tanjiz

3) Jelas mauquf alaih nya (orang yang diberi wakaf) dan bisa dimiliki barang yang diwakafkan (mauquf) itu

b. Rukun Wakaf

1) Orang yang berwakaf (wakif), syaratnya;

a. kehendak sendiri

b. berhak berbuat baik walaupun non Islam

2) sesuatu (harta) yang diwakafkan (mauquf), syartanya;

a. barang yang dimilki dapat dipindahkan dan tetap zaknya, berfaedah saat diberikan maupun dikemudian hari

b. milki sendiri walaupun hanya sebagian yang diwakafkan atau musya (bercampur dan tidak dapat dipindahkan dengan bagian yang lain

3) Tempat berwakaf (yang berhaka menerima hasil wakaf itu), yakni orang yang memilki sesuatu, anak dalam kandungan tidak syah.

4) Akad, misalnya: “Saya wakafkan ini kepada masjid, sekolah orang yang tidak mampu dan sebagainya” tidak perlu qabul (jawab) kecuali yang bersifat pribadi (bukan bersifat umum)

3. Harta yang Diwakafkan

Wakaf meskipun tergolong pemberian sunah, namun tidak bisa dikatakan sebagai sedekah biasa. Sebab harta yang diserahkan haruslah harta yang tidak habis dipakai, tapi bermanfaat secara terus menerus dan tidak boleh pula dimiliki secara perseorangan sebagai hak milik penuh. Oleh karena itu, harta yang diwakafkan harus berwujud barang yang tahan lama dan bermanfaat untuk orang banyak, misalnya:

a. sebidang tanah
b. pepohonan untuk diambil manfaat atau hasilnya
c. bangunan masjid, madrasah, atau jembatan

Dalam Islam, pemberian semacam ini termasuk sedekah jariyah atau amal jariyah, yaitu sedekah yang pahalanya akan terus menerus mengalir kepada orang yang bersedekah. Bahkan setelah meninggal sekalipun, selama harta yang diwakafkan itu tetap bermanfaat. Hadits nabi SAW:

اِذَا مَاتَ ابْنَ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْ عِلْمٍ يَنْتَفَعُ بِهِ اَوْ وَلَدِ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ (رواه مسلم)

Artinya: “Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga (macam), yaitu sedekah jariyah (yang mengalir terus), ilmu yang dimanfaatkan, atu anak shaleh yang mendoakannya.” (HR Muslim)

Berkembangnya agama Islam seperti yang kita lihatsekarang ini diantaranya adalah karena hasil wakaf dari kaum muslimin. Bangunan-bangunan masjid, mushala (surau), madrasah, pondok pesantren, panti asuhan dan sebaginya hampir semuanya berdiri diatas tanah wakaf. Bahkan banyak pula lembaga-lembaga pendidikan Islam, majelis taklim, madrasah, dan pondok-pondok pesantren yang kegiatan operasionalnya dibiayai dari hasil tanah wakaf.

Karena itulah, maka Islam sangat menganjurkan bagi orang-orang yang kaya agar mau mewariskan sebagian harta atau tanahnya guna kepentingan Islam. Hal ini dilakukan atas persetujuan bersama serta atas pertimbangan kemaslahatan umat dan dana yang lebih bermanfaat bagi perkembangan umat.

4. Pelaksanaan Wakaf di Indonesia

a. Landasan

1. Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik

2. Peraturan Menteri dalam Negeri No. 6 Tahun 1977 tentang Tata Cara Pendaftaran Tanah mengenai Perwakafan Tanah Milik

3. Peraturan Menteri Agama No. 1 Tahun 1978 Tentang Peraturan Pelasanaan Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik

4. Peraturan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam No. Kep/P/75/1978 tentang Formulir dan Pedoman Peraturan-Peraturan tentang Perwakafan Tanah Milik

b. Tata Cara Perwakafan Tanah Milik

1. Calon wakif dari pihak yang hendak mewakafkan tanah miliknya harus datang dihadapan Pejabat Pembantu Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) untuk melaksanakan ikrar wakaf.

2. Untuk mewakafkan tanah miliknya, calon wakif harus mengikrarkan secara lisan, jelas dan tegas kepada nadir yang telah disyahkan dihadapan PPAIW yang mewilayahi tanah wakaf. Pengikraran tersebut harus dihadiri saksi-saksi dan menuangkannya dalam bentuk tertulis atau surat

3. Calon wakif yang tidak dapat datang di hadapan PPAIW membuat ikrar wakaf secara tertulis dengan persetujuan Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten atau Kotamadya yang mewilayahi tanah wakaf. Ikrar ini dibacakan kepada nadir dihadapan PPAIW yang mewilayahi tanah wakaf serta diketahui saksi

4. Tanah yang diwakafkan baik sebagian atau seluruhnya harus merupakan tanah milik. Tanah yang diwakafkan harus bebas dari bahan ikatan, jaminan, sitaan atau sengketa

5. Saksi ikrar wakaf sekurang-kurangnya dua orang yang telah dewasa, dan sehat akalnya. Segera setelah ikrar wakaf, PPAIW membuat Ata Ikrar Wakaf Tanah

c. Surat yang Harus Dibawa dan Diserahkan oleh Wakif kepada PPAIW sebelum Pelaksananaan Ikrar Wakaf

Calon wakif harus membawa serta dan menyerahkan kepada PPAIW surat-surat berikut.

1. sertifikat hak milik atau sertifikat sementara pemilikan tanah (model E)

2. Surat Keterangan Kepala Desa yang diperkuat oleh camat setempat yang menerangkan kebenaran pemilikan tanah dan tidak tersangkut suatu perkara dan dapat diwakafkan

3. Izin dari Bupati atau Walikota c.q. Kepala Subdit Agraria Setempat

d. Hak dan Kewajiban Nadir

Nadir adalah kelompok atau bandan hukum Indonesia yang diserahi tugas pemeliharaan dan pengurusan benda wakaf

1. Hak Nadir

  1. Nadir berhak menerima penghasilan dari hasil tanah wakaf yang biasanya ditentukan oleh Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten atau Kotamadya. Dengan ketentuan tidak melebihi dari 10 % ari hasil bersih tanah wakaf
  2. Nadir dalam menunaikan tugasnya dapat menggunakan fasilitas yang jenis dan jumlahnya ditetapkan oleh Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten atau Kotamadya.

2. Kewajiban Nadir

Kewajiban nadir adalah mengurus dan mengawasi harta kekayaan wakaf dan hasilnya, antara lain:

  1. menyimpan dengan baik lembar kedua salinan Akta Ikrar Wakaf
  2. memelihara dan memanfaatkan tanah wakaf serta berusaha meningkatkan hasilnya
  3. menggunakan hasil wakaf sesuai dengan ikrar wakafnya.

5. Mengganti Barang Wakaf

Prinsip-prinsip wakaf diatas adalah pemilikan terhadap manfaat suatu barang. Barang asalnya tetap, tidak boleh diberikan, dijual atau dibagikan. Barang yang diwakafkan tidak boleh diganti atau dijual. Persoalannya akan jadi lain jika barang wakaf itu sudah tidak dapat dimanfaatkan, kecuali dengan memperhitungkan harga atau nilai jual setelah barang tersebut dijual. Artinya, hasil jualnya dibelikan gantinya. Dalam keadaan demikian , mengganti barang wakaf dibolehkan. Sebab dengan cara demikian, barang yang sudah rusak tadi tetap dapat dimanfaatkan dan tujuan wakaf semula tetap dapat diteruskan, yaitu memanfaatkan barang yang diwakafkan tadi.

Sayyidina Umar r.a. pernah memindahkan masjid wakah di Kuffah ke tempat lain menjadi masjid yang baru dan lokasi bekas masjid yang lama dijadikan pasar. Masjid yang baru tetap dapat dimanfaatkan. Juga Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa tujuan pokok wakaf adalah kemaslahatan. Maka mengganti barang wakaf tanpa menghilangkan tujuannya tetap dapat dibenarkan menurut inti dan tujuan hukumnya.

6. Pengaturan Wakaf

Tujuan wakaf dapat tercapai dengan baik, apabila faktor-faktor pendukungnya ada dan berjalan. Misalnya nadir atau pemelihara barang wakaf. Wakaf yang diserahkan kepada badan hukum biasanya tidak mengalami kesulitan. Karena mekanisme kerja, susunan personalia, dan program kerja telah disiapkan secara matang oleh yayasan penanggung jawabnya.

Pengaturan wakaf ini sudah barang tentu berbeda-beda antara masing-masing orang yang mewakafkannya meskipun tujuan utamanya sama, yaitu demi kemaslahatan umum. Penyerahan wakaf secara tertulis diatas materai atau denagn akta notaris adalah cara yang terbaik pengaturan wakaf. Dengan cara demikian, kemungkinan penyimpangan dan penyelewengan dari tujuan wakaf semula mudah dikontrol dan diselesaikan. Apalagi jika wakaf itu diterima dan dikelola oleh yayasan-yayasan yang telah bonafide dan profesional, kemungkinan penyelewengan akan lebih kecil.

A. Hikmah Wakaf

Hikmah wakaf adalah sebagai berikut:

  1. Melaksanakan perintah Allah SWT untuk selalu berbuat baik. Firman Allah SWT:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱرۡڪَعُواْ وَٱسۡجُدُواْ وَٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمۡ وَٱفۡعَلُواْ ٱلۡخَيۡرَ لَعَلَّڪُمۡ تُفۡلِحُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS Al Hajj : 77)

  1. Memanfaatkan harta atau barang tempo yang tidak terbatas

Kepentingan diri sendiri sebagai pahala sedekah jariah dan untuk kepentingan masyarakat Islam sebagai upaya dan tanggung jawab kaum muslimin. Mengenai hal ini, rasulullad SAW bersabda dalam salah satu haditsnya:

مَنْ لاَ يَهْتَمَّ بِاَمْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مْنِّى (الحديث)

Artinya: “Barangsiap yang tidak memperhatikan urusan dan kepentingan kaum muslimin maka tidaklah ia dari golonganku.” (Al Hadits)

  1. Mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi

Wakaf biasanya diberikan kepada badan hukum yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan. Hal ini sesuai dengan kaidah usul fiqih berikut ini.

مَصَالِحِ الْعَامِّ مُقَدَّمُ عَلى مَصَالِحِ الْجَاصِّ

Artinya: “Kemaslahatan umum harus didahulukan daripada kemaslahatan yang khusus.

Adapun manfaat wakaf bagi orang yang menerima atau masyarakat adalah:
1. dapat menghilangkan kebodohan.
2. dapat menghilangkan atau mengurangi kemiskinan.
3. dapat menghilangkan atau mengurangi kesenjangan sosial.
4. dapat memajukan atau menyejahterakan umat.

Catatan:

Dasar Hukum Wakaf
Badan “Wakaf Indonesia”

Menurut Al-Quran

Secara umum tidak terdapat ayat al-Quran yang menerangkan konsep wakaf secara jelas.  Oleh karena wakaf termasuk infaq fi sabilillah, maka dasar yang digunakan para ulama dalam menerangkan konsep wakaf ini didasarkan pada keumuman ayat-ayat al-Quran yang menjelaskan tentang infaq fi sabilillah. Di antara ayat-ayat tersebut antara lain:

 “Hai orang-orang yang beriman! Nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usaha kamu yang baik-baik, dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.” (Q.S. al-Baqarah (2): 267)

 “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian dari apa yang kamu cintai.” (Q.S. Ali Imran (3): 92)

 “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi sesiapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. al-Baqarah (2): 261)

 Ayat-ayat tersebut di atas menjelaskan tentang anjuran untuk menginfakkan harta yang diperoleh untuk mendapatkan pahala dan kebaikan. Di samping itu, ayat 261 surat al-Baqarah telah menyebutkan pahala yang berlipat ganda yang akan diperoleh orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah.

 Menurut Hadis

 Di antara hadis yang menjadi dasar dan dalil wakaf adalah hadis yang menceritakan tentang kisah Umar bin al-Khaththab  ketika memperoleh tanah di Khaibar. Setelah ia meminta petunjuk Nabi tentang tanah tersebut, Nabi  menganjurkan untuk menahan asal tanah dan menyedekahkan hasilnya.

 Hadis tentang hal ini secara lengkap adalah; “Umar memperoleh tanah di Khaibar, lalu dia bertanya kepada Nabi dengan berkata; Wahai Rasulullah, saya telah memperoleh tanah di Khaibar yang nilainya tinggi dan tidak pernah saya peroleh yang lebih tinggi nilainya dari padanya. Apa yang baginda perintahkan kepada saya untuk melakukannya? Sabda Rasulullah: “Kalau kamu mau, tahan sumbernya dan sedekahkan manfaat atau faedahnya.” Lalu Umar menyedekahkannya, ia tidak boleh dijual, diberikan, atau dijadikan wariskan. Umar menyedekahkan kepada fakir miskin, untuk keluarga, untuk memerdekakan budak, untuk orang yang berperang di jalan Allah, orang musafir dan para tamu. Bagaimanapun ia boleh digunakan dengan cara yang sesuai oleh pihak yang mengurusnya, seperti memakan atau memberi makan kawan tanpa menjadikannya sebagai sumber pendapatan.”

 Hadis lain yang menjelaskan wakaf adalah hadis yang diceritakan oleh imam Muslim dari Abu Hurairah. Nas hadis tersebut adalah; “Apabila seorang manusia itu meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya kecuali dari tiga sumber, yaitu sedekah jariah (wakaf), ilmu pengetahuan yang bisa diambil manfaatnya,  dan anak soleh yang mendoakannya.”

 Selain dasar dari al-Quran dan Hadis di atas, para ulama sepakat (ijma’) menerima wakaf sebagai satu amal jariah yang disyariatkan dalam Islam. Tidak ada orang yang dapat menafikan dan menolak amalan wakaf dalam Islam karena wakaf telah menjadi amalan yang senantiasa dijalankan dan diamalkan oleh para sahabat Nabi dan kaum Muslimim sejak masa awal Islam hingga sekarang.

 Dalam konteks negara Indonesia, amalan wakaf sudah dilaksanakan oleh masyarakat Muslim Indonesia sejak sebelum merdeka. Oleh karena itu pihak pemerintah telah menetapkan Undang-undang khusus yang mengatur tentang perwakafan di Indonesia, yaitu Undang-undang nomor 41 tahun 2004 tentang Wakaf. Untuk melengkapi Undang-undang tersebut, pemerintah juga telah menetapkan Peraturan Pemerintah nomor 42 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-undang nomor 41 tahun 2004.

41 Responses to Pengertian Wakaf

  1. info yang sangat bermanfaat… Sudi mampir

  2. PTW says:

    butuh banget sama penjelasan jenis harta wakaf. Tp nggak ada.

  3. keke says:

    emang perlu pelajaran ini harus disebarkan kemenana

  4. hany says:

    sangat membantu (y)

  5. susanti says:

    Assalamu’alaikum..stlh mbaca ttg waqf diatas,jd smakin mngerti cm mslh yg sdng sy hadapi tdk ada pnjlsnnya. Mungkin admin bs mbantu saya,krn mslh yg sdng kami hadapi ini sangat sangat mbutuhkan pnjlsn scptnya.wassalam

  6. Erik says:

    Sangat bermanfaat

  7. Salwa pavita says:

    Maaf,jk ada tanah wakaf, tp dana dr orang arab yg mau bersedekah,tp penyalurnya diparpol gimana?

  8. abuhakam says:

    Syukran ustadz, ijin copas dikit ya? azaakallaahu khaira

  9. Aang Arif Amrullah says:

    Bissalam
    Saya mau tanya, apakah ada form penyerahan wakaf dari waqif ke orang yang mewakili dan dari orang yang mewakili kepada penerima waqaf

    Syukron

    • admin says:

      Alaikum salam,
      Form surat penyerahan dari waqif ke nadzir untuk selanjutnya disebut ikrar wakaf memang seharusnya dibuat. Banyak sekali contoh2 form tersebut. Namun bila menghendaki kami dapat membantu bapak/ibu.
      Terima kasih
      Wassalam.

  10. Pingback: Surat Keterangan Wakaf | Contoh Surat

  11. Sangat membantu dalam pembelajaran.
    Ijin Share ya….

  12. nurlan kusmaedi says:

    Terima kasih, banyak info yg diperoleh. Sebagai pengurus dkm punya ide utk mendirikan bada wakaf, apakah dapat memberikan info bgmn cara/ langkahnya?

    • admin says:

      Assalamu’alaikum war. wab.

      Sederhana saja.
      Undang beberapa orang yang memiliki perhatian besar terhadap syiar islam, kemakmuran masjid dan hal-hal lain yang berkaitan dengan masa depan generasi muslim.
      Utarakan saja maksud dan tujuan dari pentingnya mendirikan sebuah lembaga yang akan memegang penuh hak pengelolaan masjid yaitu badan wakaf ……….
      Tugas badan wakaf adalah melaksanakan secara penuh semua hal yang berkaitan dengan kebutuhan masjid. Selain hal-hal yang berkaitan dengan sarana dan prasana, juga termasuk didalamnya menentukan periodesasi dan pengangkatan dan pembubaran pengurus DKM.
      DKM dan organisasi lainya bertanggung jawab kepada Badan Wakaf. Sedangkan masa bhakti dari pengurus Badan wakaf dan hal-hal yng berkaitan dengan administrasi dan organisasinya ditentukan oleh anggota Badan Wakaf itu sendiri.
      Ajukan kesepakatan-kesepakatan musyawarah anggota badan wakaf itu ke notaris untuk didaftarkan menjadi sebuah yayasan Badan Wakaf …….
      Demikian dan terima kasih

  13. Pingback: Surat Perjanjian Wakaf | Contoh Surat

  14. Pingback: Surat Perjanjian Wakaf Tanah | Contoh Surat

  15. arin says:

    salam
    mau tanya..
    apakah badan wakaf ini punya laporan keuangan?
    jika punya, apakah dipublish terutama kepada wakif?
    syukron
    wassalam

    • admin says:

      alaikum salam.
      Sebelumnya kami mohon maaf, sungguh sangat terlambat kami membalas pertanyaan ibu. Namun demikian saya sempatkan untuk menjawabnya juga, hal ini karena beberapa kali website kami mengalami jaringan yang diluar kemampuan dan sedikit kesibukan di lembaga pendidikan kami.
      Badan Wakaf Sirojul Munir ini adalah Lembaga tertinggi di Yayasan Perguruan Islam Sirojul Munir. Setiap sebulan sekali kami melaksanakan evaluasi menyeluruh aktifitas kependidikan dan kelembagaan di hadapan seluruh dewan guru dan pengurus yayasan. Termasuk didalamnya pengurus lengkap Badan Wakafnya yang memang berkewajiban mengetahui perkembangan tahapan semua kegiatan didalam yayasan ini.
      Disamping itu ada juga kami melaksanakan laporan sirkuklasi keuangannya setiap sebulan sekali, bahkan itupun secara detil dilaporkan oleh masing-masing kepadal madrasah. Sistem keuangan kami tersentral dan dipengang oleh bendahara umum yayasan. Kepengurusan Badan Wakaf melaksanakan tugas tersendiri. Sesuai dengan statusnya sebagai badan tertinggi, maka pengurus badan wakaf mengetahui semua seluk beluk urusan internal yayasan, yang hal itu tidak dapat diketahui oleh pengurus dibawahnya. Namun demikian laporan tahunan menyangkut keuangan semua pengurus yayasan dapat mengetahui melalui progress report tahunan.
      Dalam kaitan ini, para donatur yang telah memberikan bantuan shodaqoh, infaq dll termasuk wakaf, semua bantuan mereka tercatat dalam jurnal laporan keuangan bulanan dan dan dilaporan secara keseluruhan dalam tutup buku tahunan. Namun memang tidak untuk dipublikasikan secara umum. Demikian harap maklum dan terima kasih.

    • admin says:

      alaikum salam,
      Badan wakaf sirojul munir baru saja didirikan sehubungan dengan perlunya kami memiliki wadah yang bertugas membackup kebutuhan sarana pendidikan di sirojul munir. Dalam sebuah organisasi tentu badan wakaf ini di manage dengan profesional. Namun demikian dengan melihat kepentingan perjalanan berikutnya, ada banyak hal yang harus kami publis seperti wakaf kolektif untuk pembangunan masjid pondok. Sehingga data donatur dengan nominal yang ia berikan dapat terlihat dengan jelas. Rencana kami launcing wakaf kolektif ini pada tahun pelajaran 2016/2017 insya Alah.

  16. Saya Heru Surya Fathurachman Nurhidayat, ….ingat d2 academy 2014 / 2015 ( ? ) berniat mewakafkan harta berupa tabungan di beberapa bank dan tanah. Bisa bantu membuat suratnya ?????. Masalahnya…… Semua harta itu BERBENTUK PIUTANG dan dalam kondisi bermasalah : di gelapkan bank, perorangan, kelompok dan dalam pengurusan yang kusut . Semua diwakafkan untuk kelompok ‘PENGANUT pembaca / memahami TERJEMAHAN AL-QURAN’. ……….Sesuai dengan siaran tersebut
    Tulisan ini dibuat berdasarkan permintaan RONA.

  17. Saya : Heru Surya Fathurachman Nurhidayat d2 academy 2014 / 2015 ( ? ) berniat mewakafkan harta berupa tabungan di beberapa bank dan tanah. Wakaf diberikan setelah meningal duna……, Bisa bantu membuat suratnya ?????. Masalahnya…… Semua harta itu BERBENTUK PIUTANG dan dalam kondisi bermasalah : di gelapkan bank, perorangan, kelompok dan dalam pengurusan yang kusut . Semua diwakafkan untuk kelompok ‘PENGANUT pembaca / memahami TERJEMAHAN AL-QURAN’….. Sesuai dengan siaran tersebut.
    Tulisan ini dibuat berdasarkan permintaan RONA.

    • admin says:

      Baik dan terima kasih.
      Saya belum faham betul tentang pembuatan surat apakah yang dimaksud..?!. Mungkin saya bisa membuatkan konsepnya. Bisakah bapak menjelaskan status barang atau uang tersebut. Hal ini tentu menjadi penting jika bapak berminat dan berniat untuk mewakafkannya. Karena menurut sepengetahuan saya..barang yang akan diwakafkan itu harus kepemilikan secara mutlak dan konkrit, baik data maupun jenisnya. Jika bapak memang serius dan ingin melanjutkan bisa menghubungi saya di email : sirojulmunir1@gmail.com atau bapak bisa datang langsung ke Pondok Pesantren Sirojul Munir Bekasi, Telp 021 84306494. 081807457167 ( H. Saifuddin Siroj )

  18. Dra hastia maddu says:

    Bidakah diterimah wakaf tanah yg dibeli dgn korupsi, apakah amal jariahnya tetep ada? Maksih sebelumnya

    • admin says:

      Ass…wakaf. infaQ. shodaqoh terlebih zakat..harus bersumber dari yang halal..jadi tidak boleh dari hasil yang haram..trims

  19. dilla says:

    izin copy, terima kasih🙂

  20. anisa says:

    Bagaimana jika wakaf berupa uang dan yang mengelolah minta uang jasa?

    • admin says:

      Hukum wakaf bersifat mutlak berupa pelepasan hak milik berupa barang bergerak/tidak bergerak untuk kepentingan umum / agama.Manfaat untuk yg wakaf (waqif) dapat dibaca lagi karena banyak.
      Jika waqif ingin mengambil manfaat, sebaiknya dipisahkan antara benda yang diwakafkan dengan hal lain seperti dalam bentuk penyertaan modal dengan sistem bagi hasil pada bidang yg dikehendaki. Trims.

  21. ssd says:

    Maaf…apa perbwdaan wakaf perseorangan dengan wakaf umym? Terimakasih

    • admin says:

      ass…wakaf perorangan adalah penyerahan berupa benda baik bergerak maupun tidak bergerak, yang dilakukan oleh seorang diri untuk kepentingan umum. Sedangkan wakaf umum atau sering disebut wakaf kolektif adalah beberapa orang bersatu yang masing-masing orang tersebut mengeluarkan biaya berdasarkan kemampuannya untuk membiayai atau membeli barang bergerak atau tidak bergerak, lalu barang tersebut diwakafkan untuk kepentingan umum.

  22. Widya Dwi H says:

    apakah wakaf bisa diatas namakan almarhumah ?

  23. Hadianto Sutrisno says:

    Bolehkah wakaf tanah untuk dijadikan rumah untuk orang yang tidak mampu

    • admin says:

      Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
      Seyogyanya wakaf diperuntukkan untuk hal-hal berikut ini :
      Peruntukan harta benda wakaf adalah diperuntukan untuk :
      1) sarana dan kegiatan ibadah;
      2) sarana dan kegiatan pendidikan serta kesehatan;
      3) bantuan kepada fakir miskin, anak terlantar, yatim piatu, bea siswa;
      4) kemajuan dan peningkatan ekonomi umat; dan/atau
      5) kemajuan kesejahteraan umum lainnya yang tidak bertentangan dengan syariah dan peraturan perundang-undangan.
      Demikian dan terima kasih.

  24. opiet says:

    bagaimana hukumnya apabila ahli waris dari wakif menarik kembali dan diwakafkan kembali kepada orang lain.

    • admin says:

      Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
      Jika wakaf itu dinilai tidak dimanfaatkan sesuai dengan harapan waqif atau wakaf tersebut disalah-gunakan oleh si penerima/nadzir, maka waqif boleh mengambil kembali untuk diserahkan kepada orang lain… sebagai nadzir yang baru tentunya…
      demikian dan terima kasih.
      Wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s