Sejarah

SIROJUL MUNIR

( Sekilas Sejarah )

Berawal dari pembentukan majlis taklim remaja pada saat itu (tahun 1948), KH. M. Sirojuddin bin Noang merintis pendidikan dan da’wah melalui majlis ta’lim di sebuah kampung Bojongkambing (saat ini Bojongsari). Terletak di sebelah selatan Kota Bekasi  di peloksok nun jauh dari perkotaan, kini termasuk wilayah Kec. Jatiasih, Kota Bekasi.

“Babad Hutan” itu dimulai pada tahun 1948 dengan didirikannya pengajian lekar (ngdakom) di sebuah langgar (baca : musholla) berukuran 4mx6m dengan type panggung. KH. M. Sirojuddin berjuang mendidik dan mengajarkan agama Islam untuk pertama kalinya di kampung tersebut. Mendapat sambutan yang baik dari kalangan remaja pada saat itu, majlis ta’lim terus berjalan dengan baik. Pada Tahun sekitar 1948-1950 dengan bermodal dukungan masyarakat setempat, dimulailah pembangunan masjid Jami‘ Attaqwa dan selesai sekitar tahun 1955. Perkembangan Islam di Bojongsari dan sekitarna semakin baik. Disamping mengajar, beliau juga sering berda’wah ke berbagai kampung dengan bekendaraan sepeda ontel berjuang menyebarkan Agama Islam sehingga beliau banyak dikenal oleh kalangan masyarakat sekitar, antara lain, Bantar gebang, Bojongmenteng, setu pedurenan, ciangsana, cakung pinangkasih/jatikramat, kampung ceger, pedurenan, cakung bahkan sampai ke kampung muara pesawahan, keranggan, kampung raden, pondok gede dlsb.

Berkat dukungan dan restu dari KH. Noer Ali dari Ujung Harapan Bahagia Bekasi, didirikanlah Madrasah Diniyah, masuk pada siang hari. Pembangunan gedung berasal dari gotong-royong masyarakat, baik tenaga maupun meterial yang mayoritas bambu dan kayu. Hubungan yang baik dan kedekatan beliau dengan aparat pemerintah dan mengingat kebutuhan masyarkat terhadap sekolah dasar negeri, maka diresmikan SDN filial yang berafiliasi ke SDN di kampung pedurenan Jatiluhur pada saat itu. Kepala Sekolah pertama kali adalah Guru/Engku MB. Napiun (dikenal dengan sebutan engku Boeng). SD filial ini menggunakan gedung madrasah diniyah hasil pembangunan gotong-royong.  Sehingga putra-putri masyarakat setempat belajar pagi hari di SD dan siang hari di  Madrasah Diniyah.

Letak gedung tersebut disebelah timur masjid Jami At-Taqwa Bojongsari (dulu terkenal dengan pohon sawo besar); berbentuk memanjang dengan ukuran kira-kira  14m x 40m; terdiri dari 6 lokal besar.

Perkembangan berikutnya pada thn 1973, pengelolaan Madrasah Diniyah diserahkan kepada Ust. H. Abd. Gopur. Beberapa tahun kemudian Madrasah Diniyah ini dirubah menjadi Madrasah Ibtidaiyyah dan masuk pagi hari. Hal ini juga karena SDN Bojongsari telah mendapat fasilitas gedung tersendiri dari Pemerintah Kab. Bekasi.

Pada tahun 1984 Ust. H. Abd. Gopur dibantu dengan beberapa rekannya, Ust. Nurali dan Ust. Saip, dengan dukungan dari KH. Sirojuddin Noang dan masyarakat setempat mendirikan Madrasah Tsanawiyah Sirojul Munir. Pembangunan gedung tersebut juga  berasal dari hasil gotong-royong masyarkat dan sebagian kecil bantuan dari pemerintah. Mengingat bahwa pendirian Madrasah Ibtidaiyyah dan Tsanawiyyah harus berdasarkan Yayasan, maka pada tahun 1984 dibuatlah Yayasan Perguruan Islam Sirojul Munir dengan Akte Notaris : Ny. S. Komariyah SH, No Akte :66/1984.

Sehingga pada tahun 1984 telah berdiri : majlis ta’lim, masjid Jami At-taqwa, Madrasah Ibtidaiyyah dan Madrasah Tsanawiyyah.

Memasuki tahun 1989, sepulangnya KH. Drs. Saifuddin Siroj dari Pondok Pesantren Gontor Ponorogo dan Tebuireng, didirikanlah Madrasah Aliyah dan Pondok Pesantren Sirojul Munir serta Panti Asuhan. Dengan dibantu dan didukung oleh keluarga besar dan putra-putri KH. M. Sirojuddin Noang, kini Sirojul Munir mengusung “New Brand” Pondok Pesantren Sirojul Munir untuk sebuah lembaga pendidikan yang siap berkiprah mendidik dan menciptakan generasi mendatang yan Islamy dan berakhlaqul karimah serta berpengetahuan luas.

Namun semua itu tidak akan berjalan lancar tanpa dukungan dari masyarakat setempat, sekitar dan khalayak kaum muslimin dan muslimat. Karena beban biaya pembangunan dan pengembangan lembaga pendidikan di Pondok Pesantren Sirojul Munir jelas-jelas membutuhkan bantuan moril dan materila dari berbagai lapisan masyarakat. Sirojul Munir membutuhkan biaya yang besar guna membiayai pembangunan sarana dan fasilitas serta pengembangan system pendidikan kini dan hari-hari mendatang.

Sumber-sumber pendanaan itu kami harapkan datang dari berbagai sumber keuangan dalam Islam, baik infaq, shodaqoh, zakat maupun wakaf dan bantuan suka rela ikhlas yang halal lainnya.

Untuk kepentingan dan keperluan penggalian dan pengelolaan serta pertanggung-jawaban dana bantuan kaum muslimin/muslimat itulah, hadir Badan Wakaf Sirojul Munir.

Semoga lembaga ini mendapat keridloan dan pertolongan dari Allah SWT, serta mendapatkan jalan yang mudah dalam mengemban misi dan visi  serta tujuan yang hendak dicapai dalam menciptakan generasi mendatang yang islamy, berilmu-pengetahuan luas dan berakhlaqul karimah. Amin ya mujibas sailin.

Berjuang Untuk Kepentingan Ummat

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.